Bab 1 Aku Selalu Dekat Dengan ALLAH Swt.
Al-Asmā’u al-husnā terdiri atas dua kata, yaitu asmā yang berarti nama-nama, dan husna yang berarti baik atau indah. Jadi, al-Asmā’u al-husnā dapat diartikan sebagai nama-nama yang baik lagi indah yang hanya dimiliki oleh Allah Swt. sebagai bukti keagungan-Nya. Kata al-Asmā’u al-husnā diambil dari ayat al-Qur’ān Q.S. Taha [20]:ayat 8.
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ
لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى
Artinya, “ Allah Swt. tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dia memiliki al-Asmā’u al-husnā (nama-nama baik)“.
2. Dalil tentang al-Asmā’u al-husnā
a. Firman Allah Swt. dalam Q.S.
al-A’rāf [7]: ayat 180
وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ
يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ.
Artinya : “ Dan Allah memiliki Asma'ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma'ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah-artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” .
b. Hadis Rasulullah saw. yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari
Dalam hadist Rasulullah Saw., yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, menyebut bahwa Allah Swt., mempunyai 99 nama.
عن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه
وسلم: "للهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسمًا مِئةٌ إِلا وَاحَدِةً لا يَحْفَظُها أحَدٌ
إلا دَخَلَ الجَنَّةَ، وهو وَتْرٌ يُحِبُّ الوَتْرَ
Artinya: “ Dari Abu Hurairah ra.
sesungguhnya Rasulullah saw.bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. mempunyai
sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa yang
menghafalkannya, maka ia akan masuk surga”. (H.R. Bukhari)
Berdasarkan hadis di atas,
menghafalkan al-Asmā’u al-husnā akan mengantarkan orang yang melakukannya masuk
ke dalam surga Allah Swt. Apakah hanya dengan menghafalkannya saja seseorang
akan dengan mudah masuk ke dalam surga? Jawabnya, tentu saja tidak, bahwa
menghafalkan al-Asmā’u al-husnā harus juga diiringi dengan menjaganya, baik menjaga hafalannya dengan terus-menerus menżikirkannya, maupun menjaganya dengan menghindari perilaku-perilaku yang bertentangan dengan sifat-sifat Allah Swt. dalam al-Asmā’u al-¦usnā tersebut.
B. Memahami makna al-Asmā’u al-¦usnā: al-Karim, al-Mu’min, al-Wakil, al-Matin, al-Jāmi’, al-‘Adl, dan al-Ākhir. Mari pelajari dan pahami satu-persatu asmā’ul husna tersebut!
1. Al-Karim
Secara bahasa, al-Karim mempunyai
arti Yang Maha mulia,Yang Maha Dermawan atau yang Maha Pemurah. Secara istilah,
al-Kar³m diartikan bahwa Allah Swt. Yang Mahamulia lagi Maha Pemurah yang
memberi anugerah atau rezeki kepada semua makhlukNya. Dapat pula dimaknai
sebagai Zat yang sangat banyak memiliki kebaikan, Maha Pemurah, Pemberi
Nikmat dan keutamaan, baik ketika diminta
maupun tidak. Hal tersebut sesuai dengan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
Artinya: “Hai manusia apakah yang
telah memperdayakanmu terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah?” (Q.S. al-Infitār: ayat
6)
Asma’ul Husna al-karim dijelaskan
dalam surat al-Mu’miun ayat 116:
فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ
ٱلْعَرْشِ ٱلْكَرِيمِ
Artinya : “ Maka Maha Tinggi Allah,
Raja yang sebenarnya; Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan
(yang memiliki) ‘Arsy yang mulia” (Q S. Al-Mu’minun : Ayat 116)
Al-Karim dimaknai Maha Pemberi
karena Allah Swt. senantiasa memberi, tidak pernah terhenti pemberian-Nya.
Manusia tidak boleh berputus asa dari kedermawanan Allah Swt. jika miskin dalam
harta, karena kedermawananNya tidak hanya dari harta yang dititipkan melainkan
meliputi segala hal. Manusia yang berharta dan dermawan hendaklah tidak sombong
jika telah memiliki sifat dermawan karena Allah Swt. tidak menyukai kesombongan.
Dengan demikian, bagi orang yang diberikan harta melimpah maupun tidak
dianugerahi harta oleh Allah Swt.,
keduanya harus bersyukur kepada-Nya karena orang yang miskin pun telah
diberikan nikmat selain harta. Al-Kar³m juga dimaknai Yang Maha Pemberi Maaf
karena Allah Swt. memaafkan dosa para hamba yang lalai dalam menunaikan
kewajiban kepada Allah Swt., kemudian hamba itu mau bertaubat kepada Allah Swt.
Bagi hamba yang berdosa, Allah Swt. adalah Yang Maha Pengampun. Dia akan
mengampuni
seberapa pun besar dosa hamba-Nya
selama ia tidak meragukan kasih sayang
dan kemurahan-Nya. Menurut imam
al-Gazali, al-Karim adalah Dia yang apabila berjanji,
menepati janjinya, bila memberi, melampaui batas harapan, tidak peduli berapa dan kepada siapa Dia memberi dan tidak rela bila ada kebutuhan dia memohon kepada selain-Nya, meminta pada orang lain. Dia yang bila kecil hati menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan siapa yang menuju dan berlindung kepada-Nya, dan tidak membutuhkan sarana atau perantara.
2. Al-Mu’min (المؤمن ) Al-mu’min artinya Maha
Pemberi Keamanan.
Al-Mu’m³n secara bahasa berasal dari
kata amina yang berarti pembenaran,ketenangan hati, dan aman. Allah Swt.
al-Mu’m³n artinya Dia Maha Pemberi rasa aman kepada semua makhluk-Nya, terutama
kepada manusia. Dengan begitu, hati manusia menjadi tenang. Kehidupan ini penuh
dengan berbagai permasalahan, tantangan, dan cobaan. Jika bukan karena Allah
Swt. Yang memberikan rasa aman dalam hati, niscaya kita akan senantiasa
gelisah, takut, dan cemas. Perhatikan firman Allah Swt. berikut!
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ
لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
Artinya: “Orang-orang yang beriman
dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang
yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (Q.S. al-An’ām [6]: ayat
82).
Al-mu’min juga dijelaskan dalam
surat al-Hasyr [59]: ayat 23 . Allah berfirman :
هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ
السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ
اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Artinya “ Dialah Allah, tidak ada
Tuhan selain Dia. Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Maha
kemanan, Pemelihara keselamatan, yang Maha perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang
Memiliki segala keagungan. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
Ketika kita akan menyeru dan berdoa
kepada Allah Swt. dengan namaNya al-Mu’min, berarti kita memohon diberikan
keamanan, dihindarkan dari fitnah, bencana dan siksa. Karena Dia lah Yang Maha
Memberikan keamanan,Dia yang Maha Pengaman. Dalam nama al-Mu’min terdapat
kekuatan yang dahsyat dan luar biasa. Ada pertolongan dan perlindungan, ada
jaminan (insurense), dan ada bala bantuan. Berżikir dengan nama Allah Swt. al-Mu’min di
samping menumbuhkan dan memperkuat keyakinan dan keimanan kita, bahwa keamanan
dan rasa aman yang dirasakan manusia sebagai makhluk adalah suatu rahmat dan
karunia yang diberikan dari sisi Allah Swt.Sebagai al-Mu’min, yaitu Tuhan Yang
Maha Pemberi Rasa Aman juga terkandung pengertian bahwa sebagai hamba yang
beriman, seorang mukmin dituntut mampu menjadi bagian dari pertumbuhan dan
perkembangan rasa aman terhadap lingkungannya. Mengamalkan dan meneladani
al-Asmā’u al-¦usnā al-Mu’m³n, artinya
bahwa seorang yang beriman harus menjadikan orang yang ada di sekelilingnya aman dari gangguan lidah dan tangannya. Berkaitan dengan itu, Hadits Shahih Al-Bukhari No. 5557 - dalam Kitab Adab Dosa seseorang yang tetangganya tak merasa aman dari gangguannya
حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدٍ
عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَاللَّهِ
لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ
اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ تَابَعَهُ شَبَابَةُ وَأَسَدُ
بْنُ مُوسَى وَقَالَ حُمَيْدُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَعُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ وَأَبُو بَكْرِ
بْنُ عَيَّاشٍ وَشُعَيْبُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
Telah menceritakan kepada kami Ashim bin Ali telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi'ib dari Sa'id dari Abu Syuraih bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman." Ditanyakan kepada beliau; "Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?" beliau bersabda: "Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya." Riwayat ini dikuatkan pula oleh Syababah dan Asad bin Musa. Dan berkata Humaid bin Al Aswad, Utsman bin Umar, Abu Bakr bin 'Ayyasy dan Syu'aib bin Ishaq dari Ibnu Abu Dzi'b dari Al Maqburi dari Abu Hurairah."
3. Al-Wakil ( الوكيل )
Kata “al-Wakil” mengandung arti Maha
Mewakili atau Pemelihara. Al-Wakil (Yang Maha Mewakili atau Pemelihara), yaitu
Allah Swt. yang memelihara dan mengurusi segala kebutuhan makhluk-Nya, baik itu
dalam urusan dunia maupun urusan akhirat.
Meskipun alam semesta ini sangat
luas, Allah tidak kesulitan memeliharanya sebagaimana yang dijelaskan dalam
surat Al-An’am [6] ayat 102
ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْۚ لَآ
اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُ ۚوَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ
وَّكِيْلٌ .
Artinya ” Itulah Allah, Tuhan kamu;
tidak ada Tuhan selain Dia; pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; Dialah
pemelihara segala sesuatu.” (surat 6 : 102)
Dia menyelesaikan segala sesuatu yang diserahkan hambanya tanpa membiarkan apa pun terbengkalai. Firman-Nya dalam al Qur’ān:
لَهٗ مَقَالِيْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ
اللّٰهِ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
Artinya: “Allah Swt. pencipta segala
sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (Q.S. az-Zumar[39]: ayat 62)
Dengan demikian, orang yang
mempercayakan segala urusannya kepada Allah Swt., akan memiliki kepastian bahwa
semua akan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Hal itu hanya dapat dilakukan
oleh hamba yang mengetahui bahwa Allah Swt. yang Mahakuasa, Maha Pengasih
adalah satu-satunya yang dapat dipercaya oleh para hamba-Nya. Seseorang yang
melakukan urusannya dengan sebaik-baiknya dan kemudian akan menyerahkan segala
urusan
kepada Allah Swt. untuk menentukan
karunia-Nya. Menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah Swt. Melahirkan sikap
tawakkal. Tawakkal bukan berarti mengabaikan sebab-sebab dari suatu kejadian.
Berdiam diri dan tidak peduli terhadap sebab itu dan akibatnya adalah sikap
malas. Ketawakkalan dapat diibaratkan dengan menyadari sebab-akibat. Orang
harus berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.. bersabda, Dari Amru bin Umayyah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah
saw :
قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُرْسِلُ نَاقَتِي، وَأَتَوَكَّلُ؟،
قَالَ: «اِعْقِلْهَا، وَتَوَكَّلْ».
Ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:
“Apakah Unta betinaku ini aku lepas dan aku bertawakkal?”
Beliau bersabda: “Ikatlah, lalu tawakkal-lah” (HR. Ibnu Hibban No. 731)
Manusia harus menyadari bahwa semua
usahanya adalah sebuah doa yang aktif dan harapan akan adanya pertolongan-Nya.
Allah Swt. Berfirman :
ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْۚ لَآ
اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُ ۚوَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ
وَّكِيْلٌ
Artinya, : “(Yang memiliki sifat-sifat
yang) demikian itu ialah Allah Swt. Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia dan Dia
adalah Pemelihara segala sesuatu.“ (Q.S. al-An’ām [6]:ayat 102)
Hamba al-Wakil adalah yang bertawakkal kepada Allah Swt. Ketika hamba tersebut telah melihat “tangan” Allah Swt. dalam sebab-sebab dan alasan segala sesuatu, dia menyerahkan seluruh hidupnya di tangan al-Wakil.
4. Al-Matin (المتين )
Al-Matin artinya Maha kokoh. Allah
Swt. adalah Maha sempurna dalam kekuatan dan kekukuhan-Nya. Kekukuhan dalam
prinsip sifat-sifat-Nya. Allah Swt. juga Mahakukuh dalam kekuatan-kekuatan-Nya.
Oleh karena itu, sifat al-Matin adalah kehebatan perbuatan yang sangat kokoh
dari kekuatan yang tidak ada taranya. Dengan begitu, kekukuhan Allah Swt. yang
memiliki rahmat dan azab terbukti ketika Allah Swt. memberikan rahmat kepada
hambahamba-Nya. Tidak ada apa pun yang dapat menghalangi rahmat ini untuk tiba kepada
sasarannya. Demikian juga tidak ada kekuatan yang dapat mencegah pembalasan-Nya.
Seseorang yang menemukan kekuatan
dan kekukuhan Allah Swt. akan membuatnya menjadi
manusia yang tawakkal, memiliki kepercayaan
dalam jiwanya dan tidak merasa rendah di hadapan manusia lain. Ia akan selalu
merasa rendah di hadapan Allah Swt. Hanya Allah Swt. yang Maha Menilai. Oleh karena
itu, Allah Swt. Melarang manusia bersikap atau merasa lebih dari saudaranya.
Karena hanya Allah Swt. yang Maha Mengetahui baik buruknya seorang hamba. Allah
Swt. juga menganjurkan manusia bersabar. Karena Allah Swt. Mahatahu apa yang
terbaik untuk hamba-Nya. Kekuatan dan kekukuhan-Nya tidak terhingga
dan tidak terbayangkan oleh manusia
yang lemah dan tidak memiliki daya upaya. Jadi, karena kekukuhan-Nya, Allah
Swt. tidak terkalahkan dan tidak tergoyahkan. Siapakah yang paling kuat dan
kukuh selain Allah Swt? Tidak ada satu makhluk pun yang dapat enundukkan Allah Swt. meskipun seluruh makhluk
di bumi ini bekerja sama. Allah Swt. berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ
Artinya: “Sungguh Allah Swt., Dialah
pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.” (Q.S. aż-Żāriyāt [51]:ayat
58)
Dengan demikian, akhlak kita
terhadap sifat al-Mat³n adalah dengan beristiqamah (meneguhkan pendirian),
beribadah dengan kesungguhan hati, tidak tergoyahkan oleh bisikan menyesatkan,
terus berusaha dan tidak putus asa serta bekerja sama dengan orang lain
sehingga menjadi lebih kuat.
Al-Jāmi’ secara bahasa artinya Yang
Maha Mengumpulkan/ Menghimpun, yaitu bahwa Allah Swt. Maha
Mengumpulkan/Menghimpun segala sesuatu yang tersebar atau terserak. Allah Swt.
Maha Mengumpulkan apa yang dikehendaki-Nya dan di mana pun Allah Swt.
berkehendak. Penghimpunan ini ada berbagai macam bentuknya, di antaranya adalah
mengumpulkan seluruh makhluk yang beraneka ragam, termasuk manusia dan lain-lainnya, di permukaan bumi ini dan kemudian mengumpulkan mereka di padang mahsyar pada hari kiamat. Allah Swt. berfirman:
رَبَّنَآ اِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِ ۗاِنَّ
اللّٰهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيْعَادَ
Artinya: “Ya Tuhan kami,
sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari
yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah Swt. tidak menyalahi
janji.”(Q.S. Ali Imrān [3] : ayat 9).
Yang dijelaskan juga dalam surat
al-An’am [6] : ayat 12
قُلْ لِّمَنْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلْ لِّلّٰهِ ۗ كَتَبَ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ
ۗ لَيَجْمَعَنَّكُمْ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَا رَيْبَ فِيْهِۗ اَلَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا
يُؤْمِنُوْنَ
Artinya : Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah apa
yang di langit dan di bumi?” Katakanlah, “Milik Allah.” Dia telah menetapkan
(sifat) kasih sayang pada diri-Nya. Dia sungguh akan mengumpulkan kamu pada
hari Kiamat yang tidak diragukan lagi. Orang-orang yang merugikan dirinya,
mereka itu tidak beriman.
Allah Swt. akan menghimpun manusia
di akhirat kelak sama dengan orangorang yang satu golongan di dunia. Hal ini
bisa dijadikan sebagai barometer,kepada siapa kita berkumpul di dunia itulah
yang akan menjadi teman kita diakhirat. Walaupun kita berjauhan secara fisik,
akan tetapi hati kita terhimpun,di akhirat kelak kita juga akan terhimpun
dengan mereka. Begitupun sebaliknyawalaupun kita berdekatan secara fisik akan
tetapi hati kita jauh, maka kitajuga tidak akan berkumpul dengan mereka.
Oleh sebab itu, apabila di dunia hati
kita terhimpun dengan orangorang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya, di
akhirat kelak kita akan berkumpul dengan mereka di
dalam neraka. Karena orang-orang yang
selalu memperturutkan hawa nafsunya, tempatnya adalah di neraka. Begitupun
sebaliknya, apabila kecenderungan hati kita terhimpun dengan orang-orang yang
beriman, bertakwa dan orang-orang saleh, di akhirat kelak kita juga akan
terhimpun dengan mereka. Karena tidaklah
mungkin orang-orang beriman hatinya terhimpun dengan orangorang kafir dan
orang-orang kafir juga tidak mungkin terhimpun dengan
orang-orang beriman. Allah Swt. juga
mengumpulkan di dalam diri seorang hamba ada yang lahir di anggota tubuh dan
hakikat batin di dalam hati. Barang siapa yang sempurna
ma’rifatnya dan baik tingkah
lakunya, maka ia disebut juga sebagai al-Jāmi’. Dikatakan bahwa al-Jāmi’ ialah
orang yang tidak padam cahaya ma’rifatnya.
6. Al-‘Adl (العدل )
Al-‘Adl artinya Maha adil dalam
membagi, menentukan, dan menetapkan sesuatu.
Yang dijelaskan dalam Qs. Ali –
Imran[3]: ayat 18 allah berfirman :
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا
الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ
اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Atinya : “ Allah menyatakan bahwa
tidak ada Tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu
yang menegakkan keadilan, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.”
Keadilan Allah Swt. bersifat mutlak,
tidak dipengaruhi oleh apa pun dan oleh siapa pun. Keadilan Allah Swt. juga
didasari dengan ilmu Allah Swt. yang MahaLuas. Sehingga tidak mungkin
keputusanNya itu salah. Allah Swt. berfirman:
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلًاۗ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖ
ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Artinya : “Telah sempurnalah kalimat
Tuhanmu (al-Qur’ān, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat
mengubah kalimat-kalimatNya dan Dia-lah
yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al An’ām [6] :ayat 115).
Al-‘Adl berasal dari kata ‘adala
yang berarti lurus dan sama. Orang yang adil adalah orang yang berjalan lurus
dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran ganda. Persamaan
inilah yang menunjukkan orang yang adil tidak berpihak kepada salah seorang
yang berselisih. Adil juga dimaknai sebagai penempatan sesuatu pada tempat yang
semestinya.
Allah Swt. dinamai al-‘Adl karena
keadilan Allah Swt. adalah sempurna. Dengan demikian semua yang diciptakan dan
ditentukan oleh Allah Swt. Sudah menunjukkan keadilan yang sempurna. Hanya
saja, banyak di antara kita yang tidak menyadari atau tidak mampu menangkap
keadilan Allah Swt. Terhadap apa yang menimpa makhluk-Nya. Karena itu, sebelum
menilai sesuatu itu adil atau tidak, kita harus dapat memperhatikan dan
mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus yang akan dinilai. Akal
manusia tidak dapat
menembus semua dimensi tersebut.
Seringkali ketika manusia memandang sesuatu secara sepintas dinilainya buruk,
jahat, atau tidak adil, tetapi jika dipandangnya secara luas dan menyeluruh,
justru sebaliknya, merupakansuatu keindahan, kebaikan, atau keadilan. Tahi
lalat secara sepintas terlihat buruk, namun jika berada di tengah-tengah wajah
seseorang dapat terlihat indah. Begitu juga memotong kaki seseorang (amputasi)
terlihat kejam,
namun ketika dikaitkan dengan
penyakit yang mengharuskannya untuk dipotong, hal tersebut merupakan suatu
kebaikan. Di situlah makna keadilan yang tidak gampang menilainya.
Allah Swt. Mahaadil. Dia menempatkan
semua manusia pada posisi yang sama dan sederajat. Tidak ada yang ditinggikan
hanya karena keturunan,kekayaan, atau karena jabatan. Dekat jauhnya posisi
seseorang dengan Allah Swt. hanya diukur dari seberapa besar mereka berusaha
meningkatkan takwanya. Makin tinggi takwa seseorang, makin tinggi pula
posisinya, makin mulia dan dimuliakan oleh Allah Swt., begitupun sebaliknya.
Sebagian dari keadilan-Nya, Dia hanya
menghukum dan memberi sanksi kepada mereka yang terlibat langsung dalam
perbuatan maksiat atau dosa. Istilah dosa turunan, hukum karma, dan lain semisalnya
tidak dikenal dalam syari’at Islam. Semua manusia di hadapan Allah Swt. Akan mempertanggungjawabkan
dirinya sendiri. Lebih dari itu, keadilan Allah Swt. selalu disertai dengan
sifat kasih sayang. Dia memberi pahala sejak seseorang berniat berbuat baik dan
melipatgandakan pahalanya jika kemudian direalisasikan dalam amal
perbuatan. Sebaliknya, Dia tidak langsung memberi catatan dosa selagi masih berupa niat berbuat jahat. Sebuah dosa baru dicatat apabila seseorang telah benar-benar berlaku jahat.
7. Al-Ākhir ( آل - النهاية )
Al-Ākhir artinya Allah Swt. tidak
memiliki permulaan dan akhir. Yang Maha akhir yang tidak ada sesuatu pun
setelah Allah Swt. Dia Maha kekal tatkala semua makhluk hancur, Maha kekal dengan
kekekalan-Nya. Adapun kekekalan makhluk-Nya adalah kekekalan yang terbatas,
seperti halnya kekekalan surga, neraka, dan apa yang ada di dalamnya. Surga adalah
makhluk yang Allah Swt. ciptakan dengan ketentuan, kehendak, dan perintah-Nya.
Nama ini disebutkan di dalam firman-Nya:
هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ
شَيْءٍ عَلِيْم
Artinya: “Dialah Yang Awal dan Akhir Yang ¨ahir dan Yang Batin, dan Dia
Maha Mengetahui segala sesuatu “.
(Q.S. al-Hadid [57] : ayat 3).
Allah Swt. berkehendak untuk
menetapkan makhluk yang kekal dan yang tidak, namun kekekalan makhluk itu tidak
secara zat dan tabi’at. Karena secara tabi’at dan zat, seluruh makhluk ciptaan
Allah Swt. adalah fana (tidak kekal). Sifat
kekal tidak dimiliki oleh makhluk, kekekalan yang ada hanya sebatas kekal untuk
beberapa masa sesuai dengan ketentuan-Nya. Orang yang mengesakan al-Ākhir akan
menjadikan Allah Swt. sebagai satu-satunya tujuan hidup yang tiada tujuan hidup
selainNya, tidak ada permintaan kepada selain-Nya, dan segala kesudahan tertuju
hanya kepada-Nya. Oleh sebab itu, jadikanlah akhir kesudahan kita hanya
kepada-Nya. Karena sungguh akhir kesudahan hanya kepada Rabb kita, seluruh
sebab dan tujuan jalan akan berujung ke haribaan-Nya semata. Orang yang
mengesakan al-Ākhir akan selalu merasa membutuhkan Rabb-nya, ia akan selalu bendasarkan apa yang diperbuatnya kepada apa
yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. untuk
hamba-Nya, karena ia mengetahui bahwa
Allah Swt. adalah pemilik segala kehendak, hati, dan niat.
Komentar