Bagaimana Strategi Dakwah Rasululah saw. di Mekah ?
Strategi Dakwah Rasululah saw. di Mekah
Kondisi masyarakat Arab saat
itu yang bergelimang dengan kemaksiatan dan praktik-praktik kemunkaran. Ia
mengerti benar bagaimana kondisi masyarakat Arab saat itu. Mengubah pola pikir
dan kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat bangsa Arab khususnya kaum Quraisy
bukanlah perkara mudah karena Kebiasaan yang telah dilakukan secara
turun-temurun sejak ratusan tahun silam, ditambah lagi dengan pengaruh agama
Nasrani dan Yahudi yang sudah dikenal lama bahkan sudah banyak penganutnya.
Ada dua tahapan yang dilakukan
Rasulullah saw. dalam menjalankan misi dakwah tersebut, yaitu dakwah (al-Da’wah
bi al-Sirr) secara sembunyi-sembunyi yang hanya terbatas di kalangan keluarga
dan sahabat terdekat dan dakwah secara terang-terangan kepada khalayak ramai.
1. Dakwah secara
Rahasia/Diam-diam (al-Da’wah bi al-Sirr)
Dakwah Pertama agar tidak
menimbulkan keresahan dan kekacauan di kalangan suku / masyarakat Quraisy,
Rasulullah saw. memulai dakwahnya secara sembunyisembunyi (al-Da’wah bi
al-Sirr). Hal tersebut dilakukan mengingat kerasnya watak suku Quraisy dan
keteguhan mereka berpegang pada keyakinan dan penyembahan berhala. Pada tahap
ini, Rasulullah saw. memfokuskan dakwah Islam hanya kepada orang-orang
terdekat, yaitu keluarga dan para sahabatnya. Rumah Rasulullah saw (Dārul Arqam)
dijadikan sebagai pusat kegiatan dakwah. Di tempat itulah, ia menyampaikan
risalah-risalah tauhid dan ajaran Islam lainnya yang diwahyukan Allah Swt.
kepadanya. Rasulullah saw. secara langsung menyampaikan dan memberikan
penjelasan tentang ajaran Islam dan mengajak pengikutnya untuk meninggalkan
agama nenek moyang mereka, yaitu dari menyembah berhala menuju penyembahan
kepada Allah Swt. Karena sifat dan pribadinya yang sangat terpercaya dan
terjaga dari hal-hal tercela, tanpa ragu para pengikutnya, baik dari kalangan
keluarga maupun para sahabat menyatakan ketauhidan dan keislaman mereka di
hadapan Rasulullah saw.
Adapun Orang-orang pertama
(as-sābiqunal awwalµn) yang mengakui kerasulan Nabi Muhammad saw. dan
menyatakan keislamannya adalah: Siti Khadijah (istri), Ali bin Abi Thalib (adik
sepupu), Zaid bin harisah (pembantu yang diangkat menjadi anak), dan Abu Bakar
Siddik (sahabat). Selanjutnya secara perlahan pengikut Rasulullah saw. Yakini Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Said bin Abi
Waqas, Abdurrahman bin ‘Auf, Taha bin Ubaidillah, Abu Ubaidillah bin Jarrah,
Fatimah bin Khattab dan suaminya Said bin Zaid al-Adawi, Arqam bin Abil Arqam,
dan beberapa orang lainnya yang berasal dari suku Qurasy.
Berdakwah secara diam-diam
atau rahasia (al-Da’wah bi al-Sirr) ini dilaksanakan Rasulullah saw. selama
lebih kurang tiga tahun. Setelah memperoleh pengikut dan dukungan dari keluarga
dan para sahabat, selanjutnya Rasulullah saw. mengatur strategi dan rencana
agar ajaran Islam dapat diajarkan dan disebarluaskan secara terbuka.
2. Dakwah secara
Terang-terangan (al-Da’wah bi al-Jahr)
Dakwah rasulullah secara
terang terangan Seriring dengan turunNya
wahyu Allah Swt. yang memerintahkan Rasulullah
saw. melakukannya dakwah secara terang-terangan dan terbuka. Mengenai hal
tersebut, Allah Swt. Berfirman dalam Q.S. al-hijr/15:94., :
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ
الْمُشْرِكِيْنَ
artinya: “Maka
sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan
(kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik.” (Q.S. al-hijr/15:94).
firman Allah dalam Q.S.
asy-Syua’ara/26: 214-216.
وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ
مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
فَاِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ
مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ
Artinya : 214. Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat, 215. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu. 216. Kemudian jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. asy-Syua’ara/26: 214-216)
Berdasarkan ayat-ayat di
atas, Rasulullah saw. yakin bahwa sudah saatnya ia dan para pengikutnya untuk
menyebarluaskan ajaran Islam secara terbuka dan terang-terangan. Dengan
dukungan istrinya Siti Khadijah, paman yang setia membelanya, yaitu Abu °alib,
serta para sahabat dan pengikutnya yang setia ditambah pula dengan keyakinan
bahwa Allah Swt. senantiasa menyertaiNya.
Dakwah secara
terang-terangan (al-Da’wah bi al-Jahr) dimulai ketika Rasulullah saw. menyeru
kepada orang-orang Mekah. Ia berdiri di atas sebuah bukit dan berteriak dengan
suara lantang memanggil mereka. Beberapa keluarga Quraisy menyambut seruannya.
Komentar